Menyorot Kinerja Anies Bikin Tingkat
Kebahagiaan Warga Jakarta Turun
Ketua
Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat), Sugiyanto Emik kembali menyoroti
kinerja calon presiden nomor 1 Anies Baswedan saat menjabat sebagai gubernur
DKI Jakarta. Anies sering kali menyoroti pencapaiannya sebagai mantan gubernur
DKI Jakarta dalam berbagai debat dan kampanye. Ia menilai justru terdapat
kegagalan yang mencolok dalam mewujudkan visinya tentang "Kota Maju,
Warganya Bahagia."
"Pentingnya
aspek kebahagiaan warga menjadi perhatian utama karena Anies Baswedan telah
mengusung jargon tersebut selama kepemimpinannya. Namun, realitas di lapangan
tidak sejalan dengan retorika tersebut. Selama memimpin Jakarta, Anies gagal
meningkatkan kebahagiaan warganya," katanya dalam keterangannya, Sabtu
(13/1/2024).
Survei
terbaru yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta pada tahun 2021
mencatat penurunan indeks kebahagiaan Jakarta menjadi 70,68 poin atau turun
dari 71,33 poin pada tahun 2017. Dibandingkan dengan indeks pada tahun 2014,
yang sebesar 69,21 poin.
"Ini
menunjukkan bahwa janji Anies untuk membuat warganya bahagia tidak
terealisasi," katanya.
Meskipun
Anies mengalokasikan dana sebesar Rp395,74 triliun dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta selama kepemimpinannya, ia menuding hasilnya
tidak sebanding. DKI Jakarta, dengan anggaran sebesar itu, bahkan tidak masuk
dalam 10 provinsi terbahagia, mencerminkan kegagalan Anies memenuhi janjinya.
"Selain
itu, beberapa masalah klasik Jakarta seperti banjir dan kemacetan lalu lintas
belum berhasil diatasi dengan baik. Program Electronic Road Pricing (ERP) atau
sistem jalan berbayar yang diperkenalkan juga tidak memberikan hasil yang
signifikan," katanya.
Ia
mencontohkan misalnya masalah sampah dan pembangunan fasilitas pengelolaan
sampah modern juga menjadi sorotan. Kegagalan dalam merevisi Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022 dan tidak mencapai target
pembangunan rumah tanpa uang muka juga menunjukkan kinerja yang buruk.
"Pertanyaan
mengenai kemampuan APBD yang mencapai Rp395,74 triliun untuk menyelesaikan
masalah klasik Jakarta tetap menggantung," katanya.
Selama
pemerintahan Anies, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mencatat terjadinya
penggusuran di 91 titik di Jakarta. Hal ini mencerminkan keraguan akan
kebijakan pembangunan yang diterapkan selama kepemimpinannya.
"Ada 91
titik. Tahun 2017 ada 12 titik. Tahun 2018 ada 79 titik, jadi total ada 91
titik penggusuran paksa," kata Peneliti LBH Bidang Perkotaan dan
Masyarakat Urban Charlie AlBajili, di kantor LBH, Jakarta. (28/12/2023)
DKI Jakarta
Happiness Index yang gagal meningkat menunjukkan bahwa rekam jejak kepemimpinan
mantan Gubernur Anies Baswedan dapat dianggap buruk karena gagal mewujudkan
janji bahagia bagi warganya. Sebagai pemilih, akan penting untuk mengevaluasi
dengan cermat kinerja para kandidat dan mempertimbangkan fakta-fakta yang ada
sebelum memutuskan dalam pemilihan presiden yang akan datang.
0 Komentar