JAWA TENGAH MASUK 5 BESAR PEMBANGUNAN PETA
NASIONAL, BAPPENAS APRESIASI KINERJA GANJAR
Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengapresiasi Gubernur Jawa Tengah
Ganjar Pranowo terkait penyusunan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) dan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Ganjar
disebut satu-satunya gubernur yang terlibat langsung salam perancangan RPD ini.
Hal itu
disampaikan Direktur Regional I Bappenas RI Abdul Malik Sadat Idris secara
virtual dalam acara Pembukaan Masa Awal Musrenbang Tahun 2023 dan Konsultasi
Publik Rancangan Awal RKPD 2024, di Gradhika Bhakti Praja, Jumat (3/2/2023).
“Saya
bersaksi, dari berbagai rangkaian RPD di provinsi (lainnya), bapak satu-satunya
(gubernur) yang hadir langsung,” kata Abdul mengawali pemaparannya.
Abdul
mengapresiasi kepedulian Ganjar yang hadir langsung di acara tersebut.
“Saya sangat
respek pak dan menghargai kepedulian bapak terhadap acara perencanaan
pembangunan nasional. Salam hormat dari kami pak,” ujarnya.
Dalam
kesempatan itu, Abdul juga mengatakan akselerasi pembangunan di Jawa Tengah
hingga 2024 sangat terasa.
Bahkan,
masuk dalam lima besar pembangunan peta nasional.
“Sehingga
orientasi ke depan di 2045 adalah sebagai kekuatan perhitungan Jawa Tengah di
peta global,” ujarnya.
Abdul juga
menyoroti masalah tata pemerintahan atau governance.
Hal ini
penting untuk mendukung iklim investasi daerah berjalan dengan baik.
“Karena
investasi bisa masuk ketika pemdanya memiliki governance yang baik dan itu saya
pikir di Jawa Tengah sudah tidak jadi masalah,” katanya.
Ditemui usai
acara, Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan Musrenbang ini penting dilakukan
untuk menampung aspirasi warga Jawa Tengah.
Sehingga
kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah nantinya mencakupi kebutuhan
masyarakat.
“Kami
pembukaan musrenbang, isu-isu besarnya kita sampaikan dengan satu harapan
masyarakat akan segera merespon,” katanya.
Gubernur Jateng
dua periode itu senang dengan masukan-masukan yang disampaikan oleh kelompok
masyarakat.
Antara lain,
soal isu pernikahan dini, kekerasan dalam rumah tangga, hingga masalah
kesejahteraan pekerja migran.
“Setelah ini
nanti kita mulai mengerucutkan untuk membuat skala-skala prioritas sesuai
dengan yang diperintahkan pusat sehingga inline. Pusat, provinsi kabupaten dan
kota,” ujarnya.
Di samping
itu, lanjut Ganjar, permasalahan besar yang juga jadi program nasional juga
diselesaikan.
“Kalau pusat
bicara tuntaskan kemiskinan, stunting, bangkitkan kembali ekonomi, berarti kita
menterjemahkan apa, investasi, penyerapan tenaga kerja dan itulah yang nanti
akan menjadi policy,” tegasnya.
Terkait
dengan penilaian Bappenas, Ganjar merasa belum sebaik yang disampaikan.
Namun
demikian, pemerintah provinsi tidak diam saja dan turut serta dalam mendukung
program-program nasional.
“Ikhtiar
kami, karena ada program pusat seperti itu kan kami mesti jemput bola,”
katanya.
Bentuk
ikhtiar yang dilakukan adalah tercapainya iklim investasi yang menarik bagi
investor.
Terbukti
pada 2022, sedikitnya 97 perusahaan yang merelokasi pabriknya ke Jawa Tengah.
Beberapa
indikator yang menarik investor, lanjut Ganjar, antara lain lokasi kawasan
industri, kemudahan ijin, integritas yang dijunjung sehingga Jateng bebas
korupsi dan pungli serta upah buruh yang bersaing.
“Kalau
kemudian dari praktek ini bisa lebih baik dan dunia kemudian mengenal, ya
sebenarnya kawan-kawan di bawah sudah bekerja dengan baik, tinggal kami gaspol
aja,“ tandasnya.
Dalam acara
tersebut, Ganjar mengundang sejumlah perwakilan kelompok masyarakat.
Antara lain
kelompok rentan yakni pekerja migran, lansia, penyandang disabilitas hingga
anak. Selain itu juga hadir seluruh OPD di jajaran Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah.
Ganjar juga
mengundang DPRD Jateng serta Kepala BI perwakilan Jawa Tengah, Rahmat Dwi
Saputra.
Adapun
secara virtual, hadir sebagai narasumber dari Kementerian Dalam Negeri Kasubdit
Wilayah Jawa-Bali, Ditjen Bina Bangda, Bob Ronald F Sagala.
0 Komentar