JOKOWI: PRESIDEN KE DEPAN TAK GENTAR DAN
BERANI LANJUTKAN LARANGAN EKSPOR
Presiden
Joko Widodo (Jokowi) menginginkan presiden penggantinya yang terpilih dalam
Pemilihan Presiden 2024 bisa melanjutkan kebijakan larangan ekspor mineral
mentah yang sudah ia jalankan saat ini.
Harapan
dikemukakannya supaya ke depan ekspor Indonesia tidak kembali ke era VOC atau
kompeni pada 400 tahun lalu; dalam bentuk bahan mentah. Harapan juga
disampaikannya supaya ekspor sumber daya alam ke depan dilakukan dalam bentuk
jadi sehingga bisa menimbulkan nilai tambah bagi ekonomi dalam negeri.
Atas dasar
keinginan itu, Jokowi mengatakan di setiap forum ia selalu mengulang-ulang soal
kebijakan hilirisasi yang dilakukan pemerintahannya. Termasuk, ancaman yang
dihadapi dalam melarang ekspor itu; digugat Uni Eropa terkait larangan nikel ke
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Kenapa
ini terus saya ulang-ulang, karena saya ingin presiden ke depan juga berani
melanjutkannya. Tidak gampang ciut nyali, tidak gentar demi kepentingan bangsa
dan negara," ucapnya dalam acara perayaan HUT PDIP ke-50 di JIExpo,
Kemayoran, Selasa (10/1).
Jokowi
bercerita kebijakan hilirisasi yang dijalankan di masa pemerintahannya terbukti
dalam menciptakan nilai tambah bagi ekonomi dalam negeri. Untuk nikel saja
misalnya.
Sebelum
pemerintahannya melarang ekspor nikel mulai 1 Januari 2020 lalu, nilai
perdagangan yang diraih Indonesia dari ekspor produk tersebut hanya US$1,1
miliar atau Rp17 triliun.
Setelah larangan
ekspor berlaku dan nikel diolah di dalam negeri, nilai ekspor dari bahan mentah
itu melonjak 19 kali lipat jadi US$20,9 miliar atau Rp326 triliun. Karena
besarnya manfaat itu, Jokowi mengatakan akan memperluas kebijakan larangan
ekspor bahan mentah.
Pada
pertengahan tahun ini, ia sudah memastikan akan melarang ekspor bijih bauksit.
"Dan
mungkin pertengahan tahun kita tambah lagi stop tembaga," katanya.
0 Komentar