Presiden
Joko Widodo atau Jokowi memberikan peringatan keras kepada pemimpin negara Uni
Eropa agar tak mendikte ASEAN dan menganggap standar mereka lebih baik.
Peringatan itu ia sampaikan dalam pidato di Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT
Peringatan 45 Tahun Kemitraan Uni Eropa-ASEAN.
Jokowi
awalnya menyebut kemitraan Uni Eropa-ASEAN telah membuahkan hasil yang baik dan
banyak tantangan yang sudah dilalui bersama. Namun, Jokowi menyebut tidak semua
hal berjalan baik-baik saja.
"Banyak
perbedaan yang harus kita selesaikan," kata Jokowi dalam acara yang
berlangsung di Brussel, Belgia, Rabu, 14 Desember 2022.
Jika ingin
membangun kemitraan yang lebih baik, kepala negara mengingatkan Eropa agar
menerapkan prinsip kesetaraan. "Tidak boleh ada pemaksaan, tidak boleh
lagi ada pihak yang selalu mendikte dan beranggapan bahwa my standar is better
than yours," ujar Jokowi yang tahun 2023, akan memimpin Indonesia sebagai
Ketua ASEAN.
Peringatan
keras ini disampaikan Jokowi setelah berbagai pertikaian dagang yang dihadapi
Indonesia dengan Eropa. Kasus yang paling populer ialah dugaan diskriminasi
sawit Indonesia di Eropa.
Pada 2018,
Pemerintah Indonesia menolak keputusan Parlemen Eropa, yang tetap menyetujui
penghentian penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit sebagai sumber
energi terbarukan pada 2021. Pemerintah Indonesia mengemukakan kekecewaannya
atas tindakan Parlemen Eropa tersebut--seperti dalam keterangan Kementerian
Luar Negeri di Jakarta, Selasa, 23 Januari 2018.
Jokowi
Pernah Menyurati Uni Eropa soal Sawit
Akibat
kejadian tersebut, Jokowi mengirim layang protes kepada Presiden dan Ketua
Parlemen Uni Eropa atas penolakan sawit Indonesia. “Presiden telah menulis
surat secara khusus pada Presiden Uni Eropa, kemudian ketua Parlemen Uni Eropa,
yang menyatakan keberatan dan protes dengan keras apa yang dilakukan Uni Eropa
berkaitan dengan kelapa sawit,” katanya di kampus Institut Pemerintahan Dalam
Negeri, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Kamis, 8 Maret 2018.
Pramono
menuturkan, lewat surat protes yang diteken presiden kala itu, Pemerintah
Indonesia menilai perlakuan Uni Eropa sebagai bentuk proteksionisme.
“Pemerintah Indonesia menganggap apa yang dilakukan Uni Eropa ini bentuk dari
proteksionisme yang dilakukan oleh mereka terhadap produk bunga matahari dan
sebagainya karena mereka tahu dengan kelapa sawit ini akan menjadi sebuah
keunggulan bagi bangsa kita,” ujarnya.
Menurut
Pramono, surat protes kepada Presiden dan Ketua Parlemen Uni Eropa itu sudah
dikirimkan Jokowi pada pekan lalu. “Surat itu sudah dikirimkan oleh Presiden
sebagai protes keras,” ucapnya.
Ia berujar
Pemerintah Indonesia juga tengah menimbang untuk melakukan hal yang sama. “Dan
juga Indonesia akan memperlakukan treatment yang equal kalau memang kemudian
ada rencana untuk dihambat,” tuturnya.
Mengenai hal
ini, Pramono tidak merincinya. “Kalau mereka tetap melakukan proteksionisme,
tentunya Indonesia tidak mau diperlakukan seperti ini. Sekarang kan sudah era
perdagangan bebas. Semua negara harus menghormati satu negara dengan negara
lain,” katanya.
Pramono
mengatakan pelarangan yang dilakukan Uni Eropa terhadap kelapa sawit Indonesia
dinilai melanggar asas persaingan usaha yang sehat. “Indonesia sebenarnya
dianggap sebagai negara yang taat dan patuh kepada isu tentang iklim dunia
karena Indonesia selalu berpartisipasi aktif di COP (Conference of Parties atau
Konferensi Perubahan Iklim PBB), baik di Paris, Maracas, dan sebagainya,”
ujarnya.
Menurutnya,
pemerintah Indonesia menilai pelarangan ini kampanye hitam bagi produk sawit
Indonesia. “Sekarang ini (pengiriman) kelapa sawit ke Eropa itu kecil
dibandingkan ke Asia Timur maupun Cina dan beberapa negara lain. Sehingga
secara komoditas pasti tidak akan terganggu. Tapi ini sudah terjadi yang kita
sebut black campaign terhadap sawit, maka Presiden telah menandatangani surat
yang ditujukan pada Presiden Uni Eropa dan Parlemen Uni Eropa. Suratnya minggu
lalu,” ucapnya.
Pemerintah,
kata dia, juga mencurigai pelarangan masuknya kelapa sawit Indonesia itu
sebagai proteksi negara-negara Uni Eropa untuk produk biofuel negara itu yang
di antaranya berasal dari biji bunga matahari. “Sebenarnya sekarang ini di
seluruh dunia bisa menerima, kecuali Uni Eropa. Mereka takut bunga matahari
yang menjadi andalan mereka tersaingi. Itu saja,” tuturnya.
Soal rencana
penerbitan keputusan presiden tentang sertifikasi kelapa sawit Indonesia,
Pramono membantahnya sebagai langkah pemerintah menghadapi pelarangan Uni Eropa
tersebut. “Sudah ada aturan tentang hal tersebut supaya kelapa sawit itu
menjadi produk yang tersertifikasi,” katanya.
Dari
Sengketa Sawit ke Nikel
Setelah
sawit, sengketa beralih ke nikel. Eropa protes atas kebijakan Indonesia
menyetop ekspor nikel ore pada awal 2020. Kasus ini sampai dibawa jalur hukum
dan Indonesia akhirnya kalah dalam gugatan Uni Eropa di Badan Penyelesaian
Sengketa atau Dispute Settlement Body (DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Baru-baru
ini, Uni Eropa mengharapkan Indonesia mematuhi keputusan panel WTO mengenai
larangan ekspor bijih nikel. Setelah Indonesia kalah dalam gugatan, Uni Eropa
ingin kedua belah pihak tetap membangun hubungan yang saling menguntungkan.
"Kami
tidak mendefinisikan hubungan kami dengan Indonesia sebagai yang menang atau
kalah... Jadi kami berharap Indonesia akan mematuhi aturan ini juga," kata
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, setelah pengarahan media
di satu hotel di Jakarta Pusat, Senin, 12 Desember 2022.
ASEAN
Pusat Pertumbuhan Ekonomi
Lebih
lanjut, Jokowi menyampaikan ke pemimpin Eropa bahwa selama beberapa dekade,
Asia Tenggara telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. "Semua proyeksi
mengatakan Asia Tenggara tetap akan menjadi pusat pertumbuhan, dengan demikian
kemitraan dengan ASEAN dipastikan akan menguntungkan," ujarnya.
Jokowi lalu
mengutip survei mengenai persepsi bisnis yang dilakukan Uni Eropa - ASEAN
Business Council pada September tahun ini. Sebanyak 63 persen responden melihat
ASEAN sebagai kawasan ekonomi terbaik, 69 persen mengharapkan pasar ASEAN
menjadi lebih penting dari aspek pendapatan global dalam dua tahun ke depan
Lalu, 97
persen berharap ada percepatan perundingan Free Trade Area (FTA) alias kawasan
perdagangan bebas Uni Eropa - ASEAN dan anggotanya. Karena itu, Jokowi mengajak
Eropa untuk membangun kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.
"Dari pandemi dan krisis multidimensi ini kita belajar, to grow and to prosper together is the only options, kita tak hanya maju bersama tapi maju setara," kata Jo
0 Komentar