Presiden Joko Widodo (Jokowi) optimistis
Indonesia akan masuk dalam jajaran 7 negara dengan produk domestik bruto atau
GDP terbesar di dunia pada tahun 2030-an.
Dia mengatakan, hal tersebut bisa
dicapai jika seluruh pihak tetap menjaga konsistensi dalam melakukan
transformasi untuk mengelola potensi dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.
“Target dari yang sudah kita hitung
nanti di tahun 2030-an, Indonesia akan masuk nomor 7 GDP yang paling besar
dunia dan pada saat Indonesia emas, hitungan kita, kita sudah masuk ke 4 besar
atau 5 besar ekonomi dunia, asal konsistensi ini terus kita jaga,” katanya saat
meresmikan Pembukaan Kongres XII Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dan
Munas XI Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (PIVERI) di Balai Sarbini,
Jakarta, Selasa, (11/10/ 2022).
Presiden menyebut konsistensi yang harus
dijaga adalah dalam transformasi pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki,
salah satunya adalah secara konsisten menghentikan ekspor bahan mentah melalui
hilirisasi industri yang telah dilakukan.
“Konsistensi itu terus kita jaga dan
terus kita ingatkan, jangan kembali ke ekspor mentah lagi, hati-hati kita
semuanya harus mengingatkan ini. Meskipun sekali lagi, kita digugat tapi kalau kita
digugat ragu-ragu dan muncul lagi, kapan lagi kita akan bisa menikmati
komoditas-komoditas dan kekayaan alam yang dimiliki oleh negara kita,” kata
Presiden.
Selain itu, Kepala Negara juga
menjelaskan bahwa upaya lain yang dapat menciptakan lompatan nilai tambah
ekonomi adalah dengan melakukan pengambilalihan saham perusahaan asing yang
mengelola potensi kekayaan alam Indonesia, seperti yang sudah dilakukan
terhadap PT Freeport Indonesia dan Blok Rokan.
“Ini ada sebuah transformasi teknologi,
ada sebuah transformasi ekonomi yang kadang-kadang kita enggak sadar,” ucap
Kepala Negara.
“Dulu ya dapat dividen 9 persen,
sekarang kita dapat dividen 51 persen, dapat pajaknya jelas lebih besar, dapat
penerimaan negara bukan pajak (PNBP), kemudian dapat bea ekspor juga lebih
besar, setelah dihitung-hitung dari pendapatan mereka, kita 70 persen itu masuk
ke negara, dari sebelumnya hanya dividen 9 persen,” sambungnya.
0 Komentar