JOKOWI TAK TAKUT
'DIKEROYOK' WTO, KINI INDONESIA DIHUJANI BERKAH
Sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang
konsisten dan tidak gentar menghadapi tuntutan di mekanisme dispute settlement
organisasi perdagangan dunia, World Trade Organization (WTO), perihal
pelarangan ekspor bijih nikel, berbuah manis.
Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi)
mengatakan, tidak perlu takut, bahkan jika Indonesia harus kalah sekali pun.
Buah manis dari konsistensi dan tekad
Jokowi itu terkonfirmasi lewat data realisasi investasi hingga saat ini, yang
didominasi sektor industri. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjabarkan capaian realisasi investasi di Tanah
Air hingga September 2022.
"Sektornya, pertama itu Rp44
triliun, industri logam dasar barang logam bukan mesin dan peralatannya, nomor
satu. Kedua transportasi, gudang, dan telekomunikasi (Rp32,5 triliun), ketiga
kawasan industri, perumahan, dan perkantoran (Rp28,9 triliun), keempat
pertambangan (Rp28,3 triliun), kelima air dan gas (Rp27,3 triliun)," kata
Bahlil, Senin (24/10/2022).
"Di sini konsisten sekali,
realisasi investasi ini kita tidak fokus lagi semata-mata pada sektor jasa.
Tapi, kita sudah membangun industri hilirisasi," tambahnya.
Dia pun memaparkan serangkaian data yang
membuktikan hilirisasi industri di Indonesia.
"Di industri logam, ini sebenarnya
mesin-mesin ini. Orang bangun pabrik di sini. Kemudian pertambangan. Ada 2
variable penting bahwa terjadi hilirisasi di sumber daya alam, khususnya
pertambangan yang masif sekarang kita lakukan," kata Bahlil.
"Ini sejalan dengan arah kebijakan
pemerintah tentang hilirisasi. Meski pun kita di bawah ke WTO, kita nggak
pernah gentar," tegas Bahlil.
Apalagi, dia menambahkan, realisasi
investasi terbesar ketiga terjadi di sektor transportasi, gudang, dan
telekomunikasi. Sektor ini menunjang hilirisasi. Kemudian kawasan industri juga
termasuk mendukung. Lalu disusul gas dan listrik, pasti akan ikut ketika
terjadi pembangunan industri yang masif.
"Data ini semakin membangun
optimisme saya ke depan bagi pembangunan ekonomi nasional," kata Bahlil.
Sepanjang Januari-September 2022, lima
sektor dengan realisasi investasi tertinggi adalah industri dasar bukan mesin
bukan logam, kedua transportasi, lalu pertambangan, keempat perumahan, kelima
gas dan listrik.
"Ini punya korelasi yang tinggi
sekali dengan kebijakan pemerintah membangun hilirisasi dan industri,"
kata Bahlil.
Beberapa bulan terakhir, kabar Indonesia
'dikeroyok' di WTO sempat bikin heboh.
Indonesia juga dituding memberikan
subsidi yang dilarang atau tidak sesuai dengan Pasal 3.1(b) Perjanjian SCM.
Berawal dari pelarangan ekspor bijih
nikel oleh Jokowi sejak 1 Januari 2020. Yang ditetapkan melalui Peraturan
Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019.
Mengutip situs resmi WTO, Uni Eropa
mengajukan ke WTO diajukan pada 22 November 2022. Disebutkan, Uni Eropa
mengklaim bahwa pembatasan ekspor bahan mentah tertentu, termasuk yang
memerlukan persyaratan pemrosesan dalam negeri, kewajiban pemasaran dalam
negeri, dan persyaratan perizinan ekspor, tidak sesuai dengan Pasal XI:1 GATT
1994.
Dalam kasus ini, Indonesia tidak hanya
akan menghadapi keberatan dari Uni Eropa. Tapi juga negara lain, yaitu: Brasil,
Kanada, China, Jepang, Korea, India, Rusia, Arab Saudi, Singapura, Turki,
Ukraina, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.
Sikap Jokowi sangat tegas. Dia bahkan
mengaku tidak takut sekalipun harus kalah.
"Nggak perlu takut setop ekspor
nikel. Dibawa ke WTO nggak apa-apa. Dan keliatannya kita juga kalah di WTO.
Nggak apa-apa, tapi barangnya sudah jadi dulu, industrinya sudah jadi. Nggak
apa-apa, kenapa kita harus takut? Kalau dibawa ke WTO kalah. Kalah nggak
apa-apa, syukur bisa menang," kata Jokowi di Jakarta, Rabu (7/9/2022).
"Tapi kalah pun nggak apa-apa,
industrinya sudah jadi dulu. Nanti juga sama. Ini memperbaiki tata kelola dan
nilai tambah ada di dalam negeri," tegas Jokowi.
Larangan Ekspor Timah
Bahkan, Jokowi tidak berhenti sampai di
sini. Dia telah berkomitmen untuk melarang ekspor timah tahun depan atau paling
cepat tahun ini. Jokowi mengaku pihaknya tengah melakukan kalkulasi.
"Kalau sudah matang kalkulasinya,
akan saya umumkan, setop tahun depan atau setop tahun ini," ujarnya
beberapa waktu lalu.
Bahlil menegaskan pemerintah sudah bulat
akan menyetop ekspor timah dan menggenjot pembangunan hilirisasi timah di dalam
negeri.
Maklum, sampai sejauh ini, dia mencatat
hilirisasi timah di dalam negeri baru mencapai 5%. Bahlil menyebutkan bahwa,
melalui penyetopan ekspor timah dan mengembangkan hilirisasi maka nilai tambah
timah akan memberikan nilai yang positif bagi pembangunan nasional.
"Kita penghasil timah terbesari
kedua di dunia. Nomor 1 China, china itu 70% melakukan hilirisasi, Indonesia
cuma 5%. Sudah begitu harganya dikendalikan oleh negara yang penghasilan
timahnya tidak sebesar Indonesia, kita menyetop untuk memberikan nilai
tambah," tegas Bahlil di Kantor BKPM, Senin (24/10/2022).
Sayangnya, Bahlil belum bisa
menyampaikan detil kapan waktu penyetopan ekspor timah akan dijalankan.
"Ya lebih cepat lebih baik," ungkap Bahlil. Mantan ketua Hipmi
tersebut mengaku BKPM telah memiliki roadmap-nya.
Hilirisasi timah sejatinya dilakukan
untuk mengikuti kesuksesan hilirisasi nikel. Yang mana, RI mendapatkan nilai
tambah dari ekspor nikel yang sudah dihilirisasi pada tahun 2021 mencapai US$
20,9 miliar.
"2017-2018 itu (ekspor bijih nikel)
RI hanya dapat US$ 3,3 miliar. Kita ditakut-takuti waktu itu. Sudah-sudah kita
hitung," tegas Bahlil.
0 Komentar