Indonesia Investment
Authority (INA) menanggapi permintaan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk
masuk dan menggarap proyek Liquid Natural Fas (LNG) Lapangan Abadi di Blok
Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Juru bicara INA Masyita
Crystallin mengatakan sovereign
wealth fund tersebut didirikan, pertama dan terutama, sebagai
entitas komersial yang ditugaskan untuk menciptakan kekayaan. Caranya melalui
disiplin investasi yang ketat, sehingga INA dapat tumbuh dengan tugas membangun
kekayaan untuk generasi masa depan Indonesia.
"Kami selalu
berhati-hati memilih proyek di mana kami berinvestasi," ujar Masyita yang
juga Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan
Makroekonomi ini dalam keterangan tertulis kepada Tempo, Jumat, 2 September 2022.
Selain itu, kata Masyta,
INA juga melakukan uji tuntas (due
diligence) yang ketat untuk memastikan bisnis layak secara komersial.
"Memberikan return
yang optimal bagi seluruh stakeholders serta mematuhi
prinsip-prinsip GCG (good
corporate governance) dan ESG (environmental,
social, and governance)," kata dia.
Sudah tiga tahun sejak
pemerintah menyetujui revisi rencana pengambangan atau plan of development (POD)
pada 2019, pengerjaan proyek tersebut tak kunjung jalan. Padahal, Blok Masela
yang terletak di Laut Arafuru ini ditargetkan berproduksi pada 2024.
Proyek ini jalan di
tempat karena Shell Upstream Oversears Ltd, anak usaha Royal Dutch Shell plc
asal Belanda, yang memegang 35 persen pemegang hak partisipasi, dikabarkan akan
angkat kaki. Sehingga, pemerintah harus mencari investor baru pengganti Shell.
Pada 4 Agustus 2022 lalu,
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK
Migas mendorong PT Pertamina (Persero) segera merampungkan kajian pengambilan
sebagian hak partisipasi Blok Masela yang ingin dilepas Shell pada September
2022.
"Kami mengharapkan
Agustus atau September ini Pertamina bisa menyelesaikan studinya mengenai
data-datanya segera. Rencananya Inpex akan mengajukan project-nya
mulai jalan cepat lebih efektif di tahun depan," kata Kepala SKK Migas Dwi
Soetjipto dikutip dari Bisnis.com pada 4 Agustus 2022.
Pertamina adalah investor
baru yang didorong pemerintah masuk ke Blok Masela selain INA. Lantaran bakal
ditinggal Shell, kini hanya ada Inpex Masela Ltd, anak usaha Inpex Corporation
asal Jepang, yang menjadi pemegang hak partisipasi 65 persen.
Upaya pencarian mitra
baru di Blok Masela terus berjalan. Pada 24 Agustus 2022, Jokowi telah
membicarakan hal tersebut dengan sejumlah menteri terkait di Istana Negara,
Jakarta. Kala itu, Jokowi telah memerintah anak buahnya segera mencari investor
baru untuk Blok Masela yang direncanakan akan menelan investasi US$ 20 milar
atau sekitar Rp 287 triliun.
"Investasi Shell dan
rencana divestasi, arahan pak presiden dicarikan investor baru termasuk
mempertimbangkan sovereign
wealth fund atau INA untuk masuk dalam proyek tersebut," kata
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan arahan Jokowi,
selepas rapat.
Di tengah nasib Blok
Masela yang belum jelas, Jokowi pada hari ini berkunjung ke Kepulauan Tanimbar.
"Blok Masela itu terus kami dorong," katanya.
Ia menceritakan ulang
situasi yang terjadi di lokasi, di mana dulu sebetulnya sudah akan jalan dengan
Inpex dan Shell. "Tetapi karena itu harganya (minyak) rendah, sehingga ada
satu yang mundur. Sehingga ini pengerjaannya juga ikut mundur," tutur
Jokowi.
Dengan kondisi tersebut,
Jokowi berjanji pemerintah akan terus mendorong hadirnya mitra baru bagi Inpex
di proyek ini. "Sehingga segera dimulai Blok Masela."
Jokowi pun menjelaskan, kalau Blok Masela bisa beroperasi, keuntungan besar akan didapat oleh Kepulauan Tanimbar. Baik untuk perputaran uang maupun untuk Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kepulauan Tanimbar maupun Provinsi Maluku. "Memang terus kita dorong agar segera dimulai," ucapnya.
0 Komentar